Kita sering berbicara tentang novel. Tetapi sesungguhnya apakah novel itu? Adakah batas-batas tertentu yang membuat sebuah fiksi-prosa dapat disebut sebagai novel yang berbeda dengan cerpen, novela, roman atau lainnya? Misalnya, apakah Metamorfosis atau aslinya dalam bahasa Jerman Die Verwandlung (1915) karya Franz Kafka (1883-1924) itu bisa dikategorikan novel atau tidak? Atau apakah The True Story of Ah Q (Kisah Nyata Si Ah Q) karya Lu Xun (1881-1936), yang pertama kali terbit serial antara 4 Desember 1921 dan 12 Desember 1942, dapat disebut novel atau tidak? Kita tahu, Metamorfosis dan Kisah Nyata Si Ah Q lumayan panjang untuk ukuran cerpen, tetapi terlalu pendek untuk ukuran novel. Jadi, pertanyaannya adalah, sekali lagi, di manakah batasannya? Read the rest of this entry »



VIVAnews – Teori fisikawan terkemuka, Stephen Hawking, bahwa Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan penciptaan alam semesta, mengundang reaksi keras dari kaum rohaniwan di Inggris. Menurut mereka, teori Hawking itu tak dapat diterima sebagai kebenaran apalagi sampai mengusik keimanan seseorang. Read the rest of this entry »



Dalam ruang klandestin yang sepi dan penuh kecemasan, di Kota Paris yang diduduki tentara Jerman, novelis Perancis kelahiran Aljazair, Albert Camus (1913-1960), menulis editorial untuk majalah yang diterbitkan secara rahasia, “Saya ingin dapat mencintai negeri saya dan tetap mencintai keadilan.” Ia seakan menunjukkan serangkaian surat kepada temannya, seorang Jerman, yang tentu saja berada di pihak “sana”.

Sahabat Camus ini barangkali seorang teman imajiner. Mungkin pula ia seorang intelektual yang benar-benar ada dan dapat menyebutkan apa arti Jerman baginya di masa nasionalisme yang bergelora itu. “Kebesaran Tanah Airku tak ternilai,” katanya. Sebab di dunia, di mana semua telah kehilangan arti, orang-orang muda Jerman beruntung dapat menemukan sesuatu yang bermakna dalam apa yang ia sebut sebagai “nasib bangsa”. “Maka mereka harus bersedia ‘mengorbankan segala-galanya’.” Read the rest of this entry »



Seandainya LSM internasional yang bergerak di bidang hak atas perumahan rakyat, Center of Housing Rights and Eviction (COHRE), mengetahui bahwa di Jakarta acap kali terjadi penggusuran paksa atas pemukiman rakyat, barangkali COHRE akan menjuluki Indonesia sebagai “negeri paling tidak beradab”. Setidaknya dalam kasus fenomenal dan kontroversial yang terjadi baru-baru ini dalam “Tragedi Koja” (kompleks makam keramat Mbah Priuk, Tanjung Priok, Jakarta Utara). Menurut laporan resmi tahun 2004, LSM internasional ini menempatkan Indonesia, Guatemala, dan Serbia Montenegro dalam peringkat pertama negara yang sangat tidak menghargai hak atas perumahan rakyat.

Sejatinya penertiban yang dilakukan Pemprov DKI itu didasari atas asumsi bahwa pemukiman liar dan lapak pedagang kaki lima (PKL) merupakan penyebab kemacetan lalu lintas, banjir, kesemrawutan dan ketidaktertiban lainnya, serta premanisme dan meningkatnya kasus kriminal. Berdasarkan argumentasi ini dapat ditarik suatu ‘benang merah’ bahwa Pemprov DKI mempunyai argumen bahwa ‘penyakit kota’ yang wujudnya kemacetan lalu lintas, banjir, kotor dan semrawut, serta premanisme dan kriminalitas tersebut dianggap bersumber dari kian banyaknya masyarakat miskin perkotaan seperti di Jakarta. Karena itu, menurut Pemprov DKI, terapi yang paling manjur dalam mengatasi persoalan pelik tersebut ialah melalui penggusuran paksa; sebagaimana terjadi dalam “Tragedi Koja” tersebut. Read the rest of this entry »



Sebulan terakhir ini kata benda (nomina) “koruptor” kembali menyeruak menjadi topik perbincangan publik di Tanah Air. Peringkat kepopuleran kosakata ini meningkat drastis menduduki peringkat teratas kata benda lainnya seperti Century, Polri, Susno, Gayus, Jupe, dan laptop. Kata “koruptor” menjadi primadona topik pembicaraan warga masyarakat sebulan terakhir, baik di tingkat elite maupun di akar rumput (grass root). Topik ini menjadi ‘menu’ tambahan (selain pisang goreng atau pizza) di kedai kopi di warung pojok, di café atau di lobby hotel, hingga di tempat penyelenggaraan arisan ibu-ibu di balai desa.
Menyebut atau membicarakan kosakata “koruptor” ini mengingatkan saya kepada sejarawan terkemuka Inggris, Lord Acton (1834-1902), dengan ungkapannya yang sangat terkenal, “Power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.” Kekuasan itu cenderung korup dan kekuasan yang absolut akan korup secara absolut pula.
Ungkapan lain yang juga termasyhur, yang pernah disampaikan oleh pujangga Inggris ini ialah “It is easier to find people fit to govern themselves than people to govern others. Every man is the best, the most responsible, judge of his own advantage.”
Read the rest of this entry »



« Older Entries