Artikel

Fakta Atau Hoax : Penggunaan Thermo Gun Berbahaya Untuk Otak?

“Kalau anda mau periksa, bukan periksa kepala saya, periksa sini (menunjuk ke punggung tangan). Kenapa? Karena hand gun thermometer itu, itu untuk meriksa kabel panas. Lasernya dipakai untuk memeriksa kabel panas, bukan meriksa untuk temperatur manusia. Dan kita ga terima. Dan mereka bilang memang alat mahal, coba kebayang kan? Bagaimana mereka jual alat, tapi kemudian kita dibodohi kepala kita ditembak laser, kita tidak tahu dampak kerusakan pada struktur otak” 

Itulah penggalan statement yang diungkapkan oleh Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, MSi dalam sebuah video wawancara dengan Helmy Yahya.

Akibat viralnya video tersebut, masyarakat dibuat khawatir dan ragu untuk mengikuti protokol kesehatan di tempat umum yang mengukur suhu tubuh menggunakan thermo gun.

Iya, karena situasi kita yang masih di tengah pandemi, sesuai protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah, pengunjung di tempat-tempat umum memang wajib melalui pemeriksaan suhu badan.

Thermo gun dipilih sebagai alternatif pengukuran suhu badan karena penggunaanya yang dapat mengefisienkan waktu.

Selain thermo gun, adapula thermometer digital dan thermometer air raksa yang lazim digunakan di pelayanan kesehatan.

Namun, karena pengukuran suhu menggunakan thermometer air raksa dan digital yang memakan waktu beberapa menit, maka tempat-tempat umum tentu saja lebih memilih menggunakan thermo gun yang pengukurannya hanya memekaan waktu beberapa detik saja.

Pertanyaannya, benarkah penggunaan thermo gun itu berbahaya?

Ternyata informasi tersebut tidak benar alias hanya hoaks.

Sebab, thermo gun yang digunakan mengukur suhu tersebut adalah salah satu jenis termometer inframerah (infrared), bukan menggunakan laser. Sementara thermo gun yang menggunakan laser hanya dapat ditemui pada keperluan pengukuran suhu di dunia industri, bukan dalam medis.

Thermometer inframerah menggunakan prinsip rambatan panas melalui radiasi. Sedangkan thermometer digital dan air raksa menggunakan prinsip rambatan panas secara konduksi.

Radiasi inframerah adalah jenis energi radiasi yang tidak terlihat secara kasat mata, tapi dapat dirasakan sebagai panas. Dalam keadaan tersebut, thermo gun tidak memancarkan inframerah, tetapi justr menerima radiasi inframerah dari tubuh kita.

Dikutip dari kumparan.com, Untuk cara kerjanya sendiri, termometer inframerah menangkap radiasi inframerah dari permukaan tubuh. Setelah ditangkap, energi dari permukaan tubuh itu kemudian diubah menjadi energi listrik sebelum nantinya ditampilkan dalam angka digital temperatur derajat celcius pada thermo gun.

Jadi, sudah paham kan? Penggunaan thermo gun itu tidak berbahaya. Jadi, diharapkan agar masyarakat tidak khawatir dan tetap patuh mengikuti protokol kesehatan di tempat umum.

Memang benar bahwa dengan hanya pengukuran suhu tubuh tidak dapat memastikan seseorang negatif Covid-19, namun pemeriksaan tubuh di tempat-tempat umum ini dapat berfungsi sebagai skrining tahap awal.

Sehingga saat seseorang memiliki suhu tubuh diatas rata-rata atau sedang mengalami demam, ia bisa segera diperiksa lebih lanjut apakah positif Covid-19 atau tidak. Dengan begitu, kita berharap agar penyebaran virus ini dapat sedikit dikendalikan.

Sebelum menutup pembahasan kali ini, agar seluruh pembaca dapat semakin yakin dalam penggunaan thermo gun di tempat umum, kami ingin mengutip statement yang dipublikasikan oleh akun official instagram Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (@kemenkes_ri).

“Thermo gun tidak menggunakan sinar laser, radioaktif semacam X-ray, hanya (menggunakan) infra red, informasi mengenai thermo gun merusak otak ini adalah statement yang salah”

(Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit – dr. Achmad Yurianto)

Join The Discussion