Artikel

Fort Rotterdam, Tempat Wisata Bangunan Bersejarah

Ketika sedang jalan-jalan ke kota Makassar, jangan lupa singgah di tempat bersejarah yang satu ini.

Benteng Fort Rotterdam.

Fort Rotterdam atau sering juga dikenal dengan sebutan Benteng Ujung Pandang, terletak di Jln. Ujung Pandang No.1, Makassar.

Masyarakat Gowa lebih sering menyebut Fort Rotterdam dengan sebutan Benteng Pannyua. Kok bisa? Iya, dalam bahasa Makassar, kata panyyua diartikan dengan hewan penyu. Sedangkan bentuk Fort Rotterdam yang apabila dilihat dari atas, akan membentuk ilustrasi bentuk hewan penyu.

Kalian udah pernah berkunjung ke destinasi wisata yang satu ini atau belum? Kalau belum, kalian wajib banget ke sini saat sedang menyambangi Kota Makassar. Karena selain berwisata, kalian juga bisa sekalian menimba ilmu sejarah kan..

Nah, tertarik berkunjung kesini? Sebelum berkunjung, ada baiknya kita cari tau sedikit tentang sejarah bangunan ini. Jadi, bagaimana bisa Fort Rotterdam bisa berdiri? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi Kallonna.

Kemudian, pada masa pemerintahan Penguasa ke-16 Sultan Hasanuddin, Benteng ini sempat mengalami kehancuran akibat penyerbuan dari Negara Belanda. Saat itu, Belanda yang ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah menyerbu beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya menyerbu Kerajaan Gowa.

Kurang lebih setahun lamanya, Belanda terus menerus menyerbu Kerajaan Gowa, akhirnya dapat menguasai Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa Tallo mengalami kekalahan.

Lalu pada tahun 1667, pihak Kerajaan Gowa Tallo akhirnya harus menandatangani perjanjian Bongayya akibat menelan kekalahan melawan Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman.

Isi perjanjian Bongayya yang ditandatangani saat itu diantaranya adalah:

1. VOC berhak untuk memonopoli atau menguasai perdagangan di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

2. VOC berhak untuk mendirikan benteng.

3. Makasar diharuskan untuk melepaskan kekuasaan daerah bawahannya , seperti Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone

4. Makasar diharuskan untuk menyerahkan semua bentengnya.

5. Aru Palakka diangkat sebagai Raja Bone.

6. Makasar diwajibkan untuk membayar biaya perang kepada VOC dengan hasil bumi setiap tahunnya.

Sesuai isi perjanjian, akhirnya Benteng Pannyua jatuh ke tangan Belanda. Corneslis Speelman lalu mengubah nama Benteng Panyyua menjadi Fort Rotterdam.

Saat itu, para pedagang lokal tidak lagi diperbolehkan berdagang, raja dan bangsawan harus menyetorkan sejumlah uang pada VOC setiap pergantian musim, dan masyarakat mulai merasa terpenjara di tanah kelahiran mereka sendiri.

Karena beberapa bangunan Fort Rotterdam yang rusak dan hancur akibat perang, Speelman membangun kembali benteng tersebut dengan desain arsitektur Belanda, walau tanpa mengubah desain dasar yang berbentuk penyu tersebut. Kemudian ia menambahkan satu benteng di bagian sayap barat.

Lalu pada sekitar abad ke-17 hingga 19, Benteng Rotterdam digunakan sebagai tempat tinggal dari Gubernur yang saat itu menjabat, para pengusaha, pendeta, kapten, dan sekretaris.

Selama era itu juga, salah satu bagian benteng yang berada di sayap barat sering disebut sebagai “the Speelman’s house” atau “rumah Speelman” karena gubernur Celebes pada masa itu, Cornelis Speelman, pernah menempati gedung tersebut.

Di masa itu, Benteng Rotterdam tak hanya dijadikan tempat tinggal, Benteng Rotterdam juga dijadikan sebagai gudang senjata serta difungsikan pula sebagai gereja hingga pertengahan abad ke-19.

Namun sekarang, Benteng Rotterdam telah menjadi salah satu tempat wisata bersejarah di Makassar. Benteng Rotterdam kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan artefak bersejarah, seperti senjata kuno, peralatan pada masa kolonial, serta sketsa-sketsa yang bernilai sejarah.

Saat berkunjung ke Rotterdam, di sayap bagian selatan kita akan menemukan alat-alat keterampilan menenun, pertanian, dan perkakas perakitan kapal.

Sedangkan sayap timur yang dulunya difungsikan sebagai barak, kini telah disulap menjadi perpustakaan kecil. Adapula lantai dasar Rotterdam yang dulunya digunakan sebagai penjara, kini telah menjadi markas departemen arkeologi.

Jadi, bagi yang belum berkunjung ke Fort Rotterdam dan berencana ke Kota Makassar nanti, jangan lupa untuk mengunjungi bangunan bersejarah ini. Karena kalian bisa berekreasi sambil mempelajari sejarah Makassar. Waktu tempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin ke Fort Rotterdam hanya sekitar 30 menit saja. Jadi, jangan dilewatkan yah..

Join The Discussion