Puisi

Pengerat

Zaman ini zaman edan.
Pengerat kasmaran menari dalam rengkiang.
Melepas segala hasratnya dalam euforia kebengisan.
Melolong serigala penuh birahi kekuasaan.

Bukan pengerat jika tak licik,
Menebar senyuman bak paku si bajingan.
Tubuhnya busuk seperti bangkai,
Setiap kata terucap adalah tuba bagi jelata.
Jelata tersihir sampai mengangguk mabuk.

Luar biasa … zaman ini!
Pengerat medaulat diri seperti tuhan.
Setiap katanya. Katanya wahyu.

Tunggu! kau mampus disikat Mungkar

Wahai engkau yang bengis,
Nikmatkah bangkai kau cicipi?

Terbuat dari apa hati mu,
Tidak bergeming melihat rusuk anak negeri kering kelaparan.
Merdukah rintihan pilu bocah karena susu Ibunya mengering.

Tuan pengerat …
Kali ini sungguh kau sudah terlalu …
Tuan kini tak punya malu.
Mengemis harta dari jelata yang ringkih.
Mengapa tidak kau telan saja bumi ini biar zaman segera berakhir lalu.

Ketahuilah …
Semenjak tuan di negeri ini,
Lumbung sulit penuh terisi.
Sejuknya pagi sudah tak berasa,
Matahari hilanglah hangat terasa.
Langit hitam ditinggalkan bintang, sunyi!
Bulan liar tak menyapa malam dengan sinarnya.

Kini bibir tak mampu mengukir senyum,
Kaku bagai tembok di malam kelam.
Doa tak lagi lantang disuarakan karena takut dibedil.
Kebenaran hanya ada dalam dongeng anak kecil.

Taman firdaus tuan sulap bagai kuburan.
Tempat serigala berpesta bersama kawanan.

Tapi tunggulah …
Mungkar sudah genit menunggumu,
Pada lahat sempit sunyi dipeluk kafan.

Mampus kau! Rusukmu akan retak berantakan

Jangan merengek ….

 

 

 

Karya : cakra99nat

Join The Discussion